Saturday, July 18, 2009

Setetes Madu

Saat itu baginda raja sedang duduk santai mendengar lelucon perdana menterinya. Di sampingnya ada meja yang terhidang beraneka macam buah serta makanan lainnya. Begitu lucunya lelucon perdana menteri hingga baginda raja tertawa tergelak-gelak dan tak sadar tangannya menyenggol piala berisi madu di atas meja. Piala berisi madu tersebut terguling, dan setetes madu terpercik di lantai.

Dengan segera perdana menteri mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka tetesan madu tersebut. Namun raja tidak kalah cepat untuk menahannya. “Jangan perdana menteriku,” sabda baginda raja. “Pekerjaan itu terlalu hina bagimu. Biarkan saja, nanti pembantu istana yang membersihkannya. Sekarang lanjutkan saja ceritamu yang menggembirakan itu.”

Perdana menteri kemudian melanjutkan ceritanya, dan mereka berdua segera lupa akan setetes madu yang terpercik di lantai. Sesaat kemudian terbanglah seekor lalat mendekat ke arah meja. Lalat hinggap di lantai, dan menghisap dengan nikmat setetes madu yang jatuh. Kedatangan lalat diintip seekor cicak yang kemudian keluar dari persembunyiannya untuk menyantap lalat. Tetapi malang, gerak gerik cicak terlihat oleh seekor kucing yang sedang bermain di dekat meja.

Tanpa tawar lagi, si kucing menyergap cicak dan memakannya. Ketika sedang nikmatnya si kucing menyantap lalat, datanglah seekor anjing yang segera menyalak menghardik si kucing. Tak ayal lagi terjadilah kejar-kejaran hingga keluar istana antara kedua hewan yang terkenal musuh bebuyutan tersebut.

Suasana menjadi hiruk pikuk oleh suara desisan kucing dan salakan anjing. Wanita pemilik kucing yang melihat kejadian tersebut segera memukul si anjing dengan tongkat kayu. Perbuatan tersebut dilihat oleh seorang wanita yang kebetulan pemilik anjing tersebut.

Pecahlah pertengkaran antara kedua wanita itu. Pertengkarannya sangat ramai hingga suami keduanya merasa perlu turut campur yang akhirnya mengakibatkan perkelahian antara dua keluarga. Paman! Ayah berkelahi dengan tetangga, bantulah.” anak-anak kedua keluarga itu saling memanggil familinya.

Famili kedua keluarga tersebut berdatangan guna memberi bantuan. Perkelahian makin meluas berubah menjadi perang dua famili dan pengikut-pengikutnya. Jalanan menjadi kacau. Hingga akhirnya kabar tersebut sampai ke telinga baginda raja. Baginda raja mengutus barisan pengawal kerajaan untuk membubarkan perkelahian tersebut.

Barisan pengawal berusaha meleraikan, tapi usaha mereka nihil, bahkan beberapa pengawal terluka oleh senjata yang digunakan dalam perkelahian. Akhirnya barisan pengawal menghunuskan tombak sebagai usaha meleraikannya. Kejadian tersebut sangat mengejutkan rakyat. Bangkitlah kemarahan rakyat.

Orang-orang yang tadinya berperang segera bersatu. Mereka sepakat untuk melawan raja yang dianggapnya zhalim tersebut. Bersama-samalah mereka menyerang istana. Terjadilah perang besar-besaran guna memberontak kezhaliman raja. Hingga akhir cerita sang baginda raja digulingkan dari tahtanya dan dipenjarakan atas kehendak rakyatnya sendiri.

(repost)

Memahami Kebodohan

  1. Orang bodoh sulit untuk mendapatkan pekerjaan, akhirnya diputusin untuk berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, dia berpikir utuk merekrut orang pintar agar kendala dalam bisnisnya berhasil. Alhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

  2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Alhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

  3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah dan selanjutnya berjuang kesana-kemari untuk mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

  4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.

  5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH, S.Kom, ST dll) oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

  6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap bual omongan, sementara itu orang pintar mengangguk-angguk percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.

  7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu kemudian orang pintar berusaha sekeras mungkin untuk memiikirkan panjang-panjang, alhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.

  8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Alhasil orang-orang pintar meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

  9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu ntuk bersenang-senang dengan keluarganya.

  10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group). Adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

Jad, disini bukannya kita harus jadi orang bodoh. Kita harus mengambil hikmah dari wacana diatas.

Tuesday, May 26, 2009

Memahami Kemiskinan

Seorang janda membujuk dua anaknya yang sedang menangis kelaparan supaya tidur. ”Anakku, tidurlah, ibu sedang memasak makanan. Nanti kalau sudah siap, ibu bangunkan.” Ibu tersebut berulang kali mengucapkan kata-kata tersebut sambil mengusap-ngusap perut anaknya yang keroncongan.

Khalifah Umar yang sedang berkeliling melakukan inspeksi kebetulan lewat rumah tersebut dan mendengarkan jeritan kedua anak tersebut. Beliau mengetuk pintu dan menyamar sebagai rakyat biasa.

Ibu tersebut membukakan pintu setelah anaknya tidur. Sang khalifah bertanya mengapa kedua anak tersebut disuruh tidur, padahal mereka minta makan. Sang perempuan menjawab, ”Aku sama sekali tak bisa memberi mereka makan, dan yang sedang kumasak adalah sebongkah batu agar anak-anakku mengira akan punya makanan setelah bangun nanti. Ini semua salah Khalifah Umar yang tidak pernah peduli dengan nasib orang miskin seperti kami.”

Batin sang khalifah begitu tertekan mendengar ucapan wanita tersebut, dan membayangkan bagaimana pertanggungjawaban dia di hadapan Allah kelak. Tanpa berkata-kata, kemudian ia mengambil sekarung gandum dan daging dari rumahnya. Kemudian ia memasak makanan di rumah wanita tersebut. ”Sekarang, bangunkanlah anak-anakmu dan makanlah bersama mereka,” pinta sang khalifah. Kemudian perempuan tersebut berucap, ”Ya Allah, seandainya kami punya khalifah sebaik orang ini tentu tak akan ada orang yang kelaparan seperti kami.” Sang khalifah hanya tersenyum, dan kemudian pergi berpamitan. Si perempuan tidak pernah tahu bahwa pria baik hati tersebut adalah sang khalifah yang ia idamkan.